Drabble: Mansfield Park [z.y.x]

Drabble: Mansfield Park

z.y.x

by akahaizu

Zhang Yixing tidak terlalu suka membaca novel.

Yah, ia memang suka membaca dan memiliki beberapa buku di ruang kerja apartemennya. Tetapi kebanyakan buku itu adalah buku mengenai bisnis dan ekonomi yang ia gunakan semasa kuliah dulu, sementara sisanya adalah buku motivasi dan beberapa karya nonfiksi terkenal dari orang-orang hebat dunia.

Novel sama sekali tidak ada di antara buku-bukunya. Ia tidak pernah membeli novel untuk ia simpan sendiri. Jadi pria itu cukup terkejut ketika menemukan sebuah kotak berdebu tergeletak sudut salah satu rak lemarinya saat tengah berberes untuk kepindahannya dan mendapati sebuah buku tebal berada di dalamnya.

Pria itu terdiam sejenak, mencoba mengingat apakah ia pernah membeli buku tebal yang rupanya adalah novel romantis-klasik–well, ia tidak membaca novel, tapi ia jelas tahu siapa itu Jane Austen–dan menyimpan novel tersebut di sebuah kotak kemudian menaruhnya di sudut lemari pakaian. Keningnya berkerut samar. Ia memang pernah membeli Pride and Prejudice edisi baru beberapa tahun lalu, tapi tidak dengan Mansfield Park.

Bukannya mencoba mengingat lebih jauh, pikiran Yixing malah bergerak ke sebuah memori yang sekejap kemudian berhasil membuat kerutan di keningnya menghilang. Senyumannya merekah seketika. Lalu pria itu mengarahkan tangannya untuk mengambil novel tersebut dari kotak dan menemukan secarik kertas terlipat di dasar kotak tersebut. Senyumannya makin lebar.

Nah! Walaupun sedikit terlambat, intuisi Yixing tidak boleh diremehkan. Gagasan yang muncul di otaknya setelah mendatangi sebuah memori semasa kuliah dulu benar adanya. Tentu saja. Novel-novel klasik seperti ini–hanya Im Yoona orangnya. Pantas saja ia tidak ingat pernah membeli Mansfield Park. Rupanya itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh mantan kekasihnya itu. Ia dan Im Yoona memang berpisah saat ulang tahunnya beberapa bulan setelah kelulusan universitas. Sepertinya wanita itu ingin memberinya kejutan, tapi mereka malah berpisah.

Well, mantan kekasihnya itu memang maniak novel, terutama novel klasik karangan sastrawan-sastrawan dunia. Apalagi yang bergenre romantis. Wanita itu sangat sering menyuruhnya untuk membaca satu-dua novel favoritnya–sebenarnya tak pernah Yixing lakukan sampai mereka tidak bersama lagi. Yixing tak menyangka wanita itu pada akhirnya memberikannya sebuah novel romantis sebagai hadiah.

Yixing membuka halaman pertama kemudian. Berpikir bahwa ia akan menemukan sesuatu di sana mengingat Im Yoona selalu menulis sesuatu di bagian pertama setiap novel miliknya. Dan lagi-lagi ia benar. ‘Mari kita lihat seberapa imajinatif dirimu. Selamat membaca!’.

Wanita ini. Sejak mereka berkencan saat pertengahan SMA selalu mengeluh kalau imanjinasi Yixing begitu terbatas–katanya efek terlalu sering melihat angka dan bermain logika. Maka dari itu Im Yoona sangat sering menyuruhnya untuk membaca novel sebagai upaya pemulihan imajinasinya.

Ah, memori mengenai Im Yoona membuatnya teringat akan pertemuan tak di sengaja mereka di Tokyo beberapa minggu lalu. Yixing sedang mengurus kepindahannya ke Tokyo dan bertemu wanita itu saat tengah mencari apartemen. Wanita itu tinggal dan bekerja di salah satu majalah fesyen kenamaan di Tokyo saat ini. Teman wanita itu tinggal di apartemen yang sama dengan yang akan ia tinggali.

Kemudian Yixing memutuskan untuk menaruh kembali novel itu di kotak, kemudian menutupnya dan menaruhnya di lantai. Sudahlah. Sudah cukup bernostalgianya. Ia akan berangkat ke Tokyo besok malam, jadi ia harus menyiapkan kepindahannya segera. Mungkin setelah sampai di Tokyo nanti, jika ia punya kesempatan, bertemu dengan Im Yoona lagi dan berterima kasih bukan ide yang buruk.

><

Ketika kegabutan yang entah bagaimana bisa datang di sela-sela fotosistem dan Calvin-Benson. Maafkan daku πŸ˜‚ atas fanfiksi absurd ini. Udah gaje, judul ama isi kagak nyambung pula, posternya sejadinya πŸ˜‚

γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γ”γ–γ„γΎγ™.

><

“Omong-omong, aku menemukan Mansfield Park yang kauberikan kepadaku dulu. Maafkan aku baru menemukannya sekarang, jadi aku tidak bisa berterima kasih lebih awal.”

Im Yoona terkekeh ketika mendengarkan pernyataan Yixing mengenai novel Mansfield Park yang beberapa minggu lalu Yixing temukan, membuat Yixing tanpa sadar ikut tersenyum.

“Duh, santai saja.” Im Yoona mengibaskan tangannya, menyesap sedikit Americano-nya. “Aku mengulang membaca novel itu beberapa saat sebelum–yah, sebelum ulang tahunmu dulu. Aku jadi menyukainya dan berpikir kalau kau membacanya, kita bisa membicarakannya bersama.”

Penjelasan Im Yoona berhenti sampai disana. Wanita itu kembali menyesap kopinya. Sementara Yixing tidak membalas pernyataan Im Yoona. Yah, memangnya mau dibalas apa? ‘Setelah itu kita putus dan aku malah baru menemukan bukunya kemarin sore’ jelas bukan respon yang tepat. Mereka berdua terdiam. Suatu hal yang bagus mengingat dengan begini Yixing punya satu dua kesempatan untuk mengerling ke arah Im Yoona.

Yah, harus Yixing akui, Im Yoona jauh–jauh– lebih cantik setelah jadi mantan kekasihnya. Rambutnya yang dulu hitam legam berubah menjadi kecokelatan dan sedikit bergelombang. Bibirnya yang dulu hanya dipoles dengan warna-warna pastel kini berubah menjadi lebih berani–membuat Im Yoona tampak lebih dewasa. Selera fesyen wanita itu juga berubah jadi lebih berwarna. Mungkin ini salah satu keuntungan memiliki pekerjaan di majalah fesyen.

“Aku makin cantik, ya?” Yixing mengerutkan kening ketika Im Yoona bergumam tiba-tiba, tapi pria itu tetap tersenyum. “Kau sampai memperhatikanku begitu, Tuan Zhang.”

Yixing mendesah berlebihan. Pura-pura kecewa. “Aku tertangkap basah, tapi kau memang makin cantik, serius.”

Yixing bisa melihat rona merah menghiasi pipi wanita itu. Namun Im Yoona hanya merespon dengan kibasan tangan. “Duh, kau memang mematikan, Tuan Zhang. Omong-omong, kurasa aku harus balik ke kantor sekarang. Aku ada rapat setelah ini. Terima kasih, ya, traktiranmu.”

“Oh, mau kuantar? Kantor majalahmu ada di gedung dekat persimpangan, ‘kan?”

Im Yoona meringis, menggelengkan kepalanya menolak seraya berdiri dari kursinya, membuat Yixing ikut berdiri dari kursinya. “Tidak usah repot-repot. Hanya di ujung jalan, kok.”

“Tidak apa-apa.” Yixing mendorong bahu Im Yoona pelan, membuat wanita itu berjalan meninggalkan kafe tepat di depannya. “Lagipula aku harus melihat tempat kerjamu lebih dekat.”

Yixing tersenyum kecil ketika rona merah di pipi Im Yoona nyaris menyamai bibir wanita itu. Kemudian wanita itu mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Ayo!”

Advertisements

2 thoughts on “Drabble: Mansfield Park [z.y.x]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s