Fragment: Nonton [i.y.a]

Fragment: Nonton [i.y.a]

by akahaizu

Sebenarnya Im Yoona belum pernah mengajak seorang laki-laki—selain sahabat baik dan kakak-kakak laki-lakinya—untuk nonton film bersamanya sebelumnya.

Well, kalau diajak sih, lumayan sering, dibayari pula. Tapi kalau mengajak, Oh Sehun adalah yang pertama kali ia ajak.

Ia cukup terkejut saat mendengar kesediaaan Oh Sehun kemarin sore. Yah, siapa yang tidak terkejut. Ia sudah kenal—sebenarnya hanya sekadar ‘tahu nama’—Oh Sehun sejak SMP. Dari SMP sampai sekarang sudah SMA—kebetulan masuk di SMA yang sama—Oh Sehun selalu jadi orang paling irit di kelas. Mulai dari bicara, bergerak, sampai empatinya pun di bawah kadar normal. Walaupun ia tidak dikucilkan atau dibully (malah sepertinya banyak yang suka), sepertinya pemuda itu tipe orang yang suka menjaga jarak dari teman-teman lainnya. Yoona tidak bisa mengira apa yang ada di benak Oh Sehun saat menerima ajakannya. Khilaf mungkin.

Nonton bareng Oh Sehun—berhubung ia tidak terlalu dekat dengan Oh Sehun, itu seperti sesuatu yang tidak mungkin, bahkan belum pernah ada di pikirannya sama sekali.

Tapi disilah ia sekarang. Duduk di sofa dekat jendela salah satu kafe di dekat bioskop dengan segelas Caramel Macchiato. Pandangannya menatap lurus ke luar jendela. Ia dan Oh Sehun sepakat untuk bertemu di sini. Mereka berjanji untuk bertemu pukul 4 sore, dan sekarang sudah pukul 3 lebih 53 dan Oh Sehun masih belum muncul di kafe.

Well, well, orang tidak mungkin datang tepat pada waktunya. Kalau tidak datang terlebih dahulu, ya telat lah pada akhirnya. Yoona tidak terlalu suka orang yang tidak tepat waktu, jadi ia selalu datang lebih awal di setiap janjian. Sekarang, kalau Oh Sehun masih belum kelihatan, kemungkinan besar pemuda itu akan terlambat.

Ia memang tidak tahu bagaimana sifat Oh Sehun sebenarnya. Ia tidak tahu Oh Sehun tipe orang yang suka menunggu atau suka membuat orang lain menunggu. Tapi berhubung pemuda itu terkenal dengan julukan ‘batu es berjalan’, sepertinya Oh Sehun akan terlambat. Orang yang cuek dan tidak pedulian biasanya lebih suka membuat orang lain menunggu dan tidak merasa bersalah setelahnya. Aduh, mana ia tidak minta nomor ponsel Oh Sehun pula.

Tipikal Kim Jongin

Yoona praktis mendengus ketika nama itu terlintas di benaknya. Cih. Bisa-bisanya ia masih memikirkan Kim Jongin saat ini setelah apa yang pemuda-sialan itu lakukan padanya selama dua bulan terakhir. Mentang-mentang punya pacar baru—sahabat-sejak-kecil-sampai-mati-nya ditinggalkan begitu saja.

Well, seharusnya ia nonton dengan Kim Jongin hari ini. Film yang sudah mereka tunggu sejak berbulan-bulan lamanya. Ia dan Kim Jongin sudah berjanji akan langsung nonton begitu filmnya dirilis di Korea. Ia sudah beli dua tiket dua hari lalu, tapi, yah, karena pacar barunya itu lho, batal sudah rencana mereka untuk nonton bareng.

Itu baru satu dari sekian banyak rencana lama yang Kim Jongin batalkan sejak mulai berkencan dengan pacar barunya—

“Hei, Im Yoona.”

Yoona mendongak ketika mendengar namanya dipanggil. Oh Sehun sudah berdiri di samping sofa tempatnya duduk. Gadis itu otomatis langsung melirik arloji putih yang meliliti pergelangan tangan kirinya. Pukul 4 tepat. Raut wajahnya berubah seketika, matanya berbinar kagum menatap Oh Sehun. “Wah, kau ternyata orang yang tepat waktu ya. Kukira kau akan terlambat. Orang yang tidak pedulian biasanya datang terlambat.”

Oh Sehun terlihat memutar bola matanya. “Kukira kau bakal terlambat. Anak manja biasanya bakal terlambat.”

Yoona mendengus jengkel. Ia? Anak manja? Memangnya apa yang ia lakukan pada Oh Sehun sampai-sampai pemuda itu berani memanggilnya dengan sebutan laknat itu? Bahkan Yoona sudah rela menunggu selama lima belas menit lebih untuk Oh Sehun. “Enak saja kau memanggilku anak manja. Kau, sih, punya julukan ‘batu es berjalan’. Memanggilmu orang yang tidak pedulian sah-sah saja. Tapi motivasimu memanggilku ‘anak manja’ itu apa, huh?”

“Sudahlah.” Oh Sehun mengibaskan sebelah tangannya, kemudian duduk di depan Yoona. “Kau benar-benar akan mentraktirku nonton, ‘kan?”

“Astaga, Oh Sehun.” Yoona memutar bola matanya, kembali menyesap Caramel Macchiato-nya. “Apa aku perlu mengeluarkan tiketnya sekarang agar kau percaya padaku?”

Yoona menatap Oh Sehun tidak percaya ketika melihat pemuda itu menganggukkan kepalanya. Demi Tuhan, Yoona kira Oh Sehun adalah orang yang cukup dewasa—orang cuek biasanya punya pikiran yang lebih dewasa dan matang daripada pikiran orang-orang seusianya yang lain. Ternyata Oh Sehun benar-benar kekanakan.

Walaupun begitu Yoona tetap meraih tas tangannya, merogoh bagian dalam tasnya untuk mencari tiket nonton yang sudah dipesannya. Tangannya menyentuh benda-benda lain yang tanpa perlu ia lihat pun bukan merupakan tiket masuk. Ponsel, tisu, kacamata, bedak, dompet, pulpen, ponsel lagi. Kerutan halus mulai muncul di keningnya.

Mana tiketnya?

Tangan Yoona kini berpindah kantong depan dari tasnya, mengeceknya satu persatu langsung di bawah pengawasan kedua matanya. Gadis itu menelan ludah ketika tidak mendapati kertas tiket di seluruh bagian tasnya. Aduh, dimana ia taruh tiketnya tadi. Gadis itu merasa sudah membawanya dan memasukkannya di tas sebelum keluar rumah. Tapi kenapa tidak ada?

Matanya mengerling ke arah Oh Sehun masih menatapnya dengan pandangan menuntut. Duduknya tegak, tangannya terlipat di depan dada. Seperti sudah siap menyerangnya saja kalau Yoona tidak menemukan tiketnya. Ah, Yoona memang tidak menemukan tiketnya. Gadis itu kembali melirik Oh Sehun. Apa pemuda itu akan mengomelinya kalau tahu ia tidak membawa tiket nonton mereka? Mana ia sudah kelewat percaya diri pula.

“Kenapa? Tiketnya tidak ada?”

Suara Oh Sehun yang terdengar galak membuat Yoona ragu-ragu untuk mengangguk. Membayangkan serangan verbal yang mungkin akan dihujamkan kepadanya setelah ini membuatnya bergidik. Tapi akhirnya gadis itu menganggukan kepalanya dengan takut. “Sepertinya ketinggalan di rumah. Eh, aku bisa mengambilnya, sih, tapi rumahku cukup jauh.”

Di luar dugaan, Oh Sehun hanya menganggukkan kepalanya. Seperti paham dengan situasi yang sedang dihadapinya.

Hening sesaat.

“Terus bagaimana?”

“Ya mau bagaimana lagi?” Suara Oh Sehun yang sedikit ketus membuat Yoona meringis. Jangan-jangan ini baru permulaannya. “Kau juga tidak mungkin pulang, ‘kan?”

Yoona menundukkan kepalanya, tangannya memegang ujung tasnya erat-erat. “Maafkan aku, ya, Sehun ah? Padahal kau sudah mau repot-repot kemari, tapi malah tidak jadi. Aku minta maaf.”

Gumaman Oh Sehun membuat Yoona kembali mendongak. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa tidak jadi nonton? Tinggal beli di sana saja. Kau seperti orang susah saja. Ayo, sebelum kehabisan.”

Yoona menatap Oh Sehun berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar kafe. Whoa, Oh Sehun sepertinya sedang dalam ‘mode baik’-nya dua hari terakhir. Yoona pikir pemuda itu akan protes dan memarahinya karena tidak membawa tiket. Well, sepertinya memang orang cuek itu punya pikiran yang lebih dewasa.

“Oi, Im Yoona, cepat!”

“Ya!” Yoona berdiri dari bangkunya, berlari menuju Oh Sehun yang sudah berada di dekat pintu keluar kafe

-.

Tamat

Makin absurd ya, ceritanya? Mohon kritik dan sarannya. Makasih!

“Sehun ah?”

“Hm?”

“Sehun ssi?”

“Hmm?”

“Oh Sehun!”

“Astaga bicara saja!”

Yoona yakin ia akan mencemooh Oh Sehun kalau-kalau niatnya memanggil bukanlah untuk meminta maaf. “Eh, maaf ya, Sehun ah, hari ini sepertinya aku sedang dalam kondisi ‘sangat bodoh’. Harusnya aku yang bayar tiketnya karena aku mengajakmu, tapi malah kau yang bayar. Maaf, ya. Dan untuk jaketmu—kalau kau mau aku bisa mencucinya untukmu. Itu kan juga salahku.”

“Tidak usah.”

“Aku yang menumpahkan sodanya ke jaketmu, jadi aku harus bertanggung jawab. Aku ini orang baik, Sehun ah.”

“Tidak usah, terima kasih. Omong-omong busmu sudah datang.”

Yoona mengalihkan pandangannya ke arah bus yang datang menuju ke arah halte tempat ia—dan Oh Sehun—menunggu. Gadis itu beralih menatap Oh Sehun. Sebagai orang yang baik, ia harus bertanggung jawab pada jaket Oh Sehun. Tangannya menyentuh ujung jaket yang pemuda itu pegang di tangan, menariknya sedikit. “Aku cucikan saja, ya? Nanti aku tidak bisa tidur gara-gara merasa bersalah.”

Dan akhirnya Oh Sehun melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Yoona tepat saat busnya berhenti di halte. Gadis itu meringis. Masih agak basah dan bau soda. Tapi ya sudahlah, memang salahnya menumpahkan soda ke jaket Oh Sehun.

Yoona baru saja akan menaiki bus ketika Oh Sehun memanggilnya. Gadis itu berbalik, apa lagi? Apa Oh Sehun mau menarik jaketnya kembali?

“Nomor ponselmu?”

Advertisements

8 thoughts on “Fragment: Nonton [i.y.a]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s