Fragment: Curhat [o.s.h]

Fragment: Curhat [o.s.h]

by akahaizu

“Jahat sekali, ‘kan?”

Oh Sehun hanya bergumam menanggapi pernyataan yang Im Yoona lontarkan dengan nada jengkel itu. Tidak menyangkal, tapi juga tidak mengiyakan. Well, sebenarnya gumamannya barusan memang tidak memiliki arti. Biarlah Im Yoona mengartikannya sendiri sesuka hati. Toh gadis itu juga tidak protes. Daripada didebat dan dihakimi setelah memilih salah satu opsi jawaban seperti yang terjadi beberapa waktu sebelumnya, malah akan membuat sesi curhat kali ini jadi lebih lama lagi.

Uh, curhat. Sehun menahan napas ketika kata itu melintas di benaknya. Memang bukan kata yang menggelikan apalagi mengerikan, sih. Hanya saja, untuk seorang Oh Sehun, kata curhat adalah kata yang cukup tabu.

Oh Sehun sedang curhat mengenai kaus kakinya yang hilangaku baru saja curhat pada Oh Sehun tentang ini-itu.

Maka bergidiklah Oh Sehun ketika kalimat-kalimat itu terlintas di benaknya. Sejenak mengalihkan diri dari sesi mendengarkan curhat Im Yoona menuju pergulatan batinnya sendiri yang lebih seru. Sehun merasa dirinya sama sekali tidak cocok bila disandingkan dengan kata curhat. Membuatnya tampak kelewat peduli dan suka ikut campur dalam kehidupan orang lain atau membuat kehidupannya tampak begitu menyedihkan. Kontras sekali dengan gelar yang diberikan kepadanya sejak kelas 2 SMP sampai sekarang—‘batu es berjalan’.

Namun ia melakukannya sekarang. Bukan curhat, hanya sebagai tempat curhat, tapi sudah cukup membuat kepribadiannya sebagai pemuda cool yang tidak pedulian terluka. Untungnya sekarang hari Jumat, pukul 4 sore, di ruang kelas paling ujung di sekolah, di bangku paling belakang pula. Hanya ada Im Yoona dan dirinya sendiri makhluk hidup kasat mata yang ada di sana. Tidak akan ada yang tahu ia dan Im Yoona tengah melakukan sesi curhat-menampung curhat.

Ia, imej, dan julukannya—aman.

Sebenarnya kalaupun ada orang lain yang memergoki sesi curhat Im Yoona kepadanya pun, Sehun yakin yang akan tersebar pasti akan berbeda dari kenyataannya. Alih-alih perihal curhat, kemungkinan besar yang beredar adalah rumor mengenai dirinya dan Im Yoona, dengan sedikit fiksi bernuansa romantis yang akan membuat rumornya jadi lebih dramatis.

Im Yoona menangis sesenggukan di kelasnya karena ditinggal sang Sahabat, kelihatan sangat merana. Kemudian Oh Sehun datang seperti pangeran kuda putih, menenangkan Im Yoona dengan tulus.

Buah dari imajinasinya yang melenceng dari karakter tersebut membuatnya mengerling ke arah Im Yoona. Gadis itu masih mengoceh, tapi Sehun tidak terlalu mempedulikan ucapannya. Paling-paling cuma kutukan dan umpatan pada Kim Jongin, sang Sahabat, sama seperti yang ia lakukan sejak satu jam lalu—sejujurnya membuat Sehun mengerti kenapa ia tidak suka ikut campur dalam kehidupan orang lain, karena selama ini yang ia tahu ia hanya tidak suka tanpa alasan.

Gadis itu baru ditinggal sang Sahabat, atau begitulah yang kira-kira Im Yoona katakan kepadanya, walaupun Sehun tidak terlalu setuju (yang membuatnya didebat habis-habisan oleh Im Yoona tadi). Gadis itu merasa sang sahabat, Kim Jongin, yang merupakan ketua OSIS dan merangkap kapten tim basket, memutus persahabatan mereka sejak lama karena Kim Jongin sudah punya pacar baru.

“Pacarnya kali ini benar-benar menyebalkan, bisa merubah Kim Jongin jadi ikut menyebalkan.”

Menurut Sehun, sih, bocah. Sangat amat klise. Memang tidak sampai sesenggukan atau apalah itu, tapi apa salahnya jika Kim Jongin berkencan dan lebih mempedulikan pacarnya daripada sahabatnya? Kalau dilihat-lihat, Im Yoona ini sepertinya tipe gadis yang suka nonton drama, jadi seharusnya gadis itu tahu dimana letak ‘sahabat’ dalam situasi seperti itu.

Rasa tidak terima mulai menghinggapi Sehun, tapi Sehun cukup lihai untuk mengabaikannya. Pemuda itu mulai memperhatikan Im Yoona. Wajahnya sudah tidak terlihat jengkel, tapi merahnya merata di seluruh bagian. Suaranya sudah tidak sejengkel sebelumnya, napasnya juga agak terengah, kelihatannya sudah hampir mengeluarkan semua beban pikirannya. Well, well, lebih baik jangan diganggu dengan mengeluarkan pendapat. Bisa-bisa akan jadi lebih lama lagi sesi curhat-nya.

“Ah, sudahlah!”

Sehun memutuskan untuk kembali mendengarkan ocehan Im Yoona ketika kata-kata ajaib itu keluar dari bibir gadis itu, otomatis membuat pemuda itu senang, diam-diam ingin melonjak. Ia memang tidak terlalu tertarik dengan curhatan Im Yoona karena terlalu mainstream dan klise. Seperti hasil pengamatannya tadi, gadis itu kelihatan mendingan dibandingkan saat Sehun menemukannya sedang menggerutu tak jelas di bangku pojok belakang.

“Kau Oh Sehun, ‘kan? Terima kasih, ya, sudah mau mendengarkanku. Maaf juga kalau tadi aku sempat bicara yang kurang baik—mulut orang marah memang susah dikontrol.” Sehun hanya menggerakkan dagu untuk meresponnya. Sedikit dongkol karena gadis itu sempat meragukan siapa dirinya.

Well, Oh Sehun. Sebenarnya aku tidak menyangka ternyata kau adalah tipe orang yang mau mendengarkan orang lain. Seingatku orang-orang memanggilmu ‘batu es berlajan’, kan? Kukira kau tipe orang yang cuek, tidak pedulian.” Im Yoona bergerak mengambil tasnya yang ia taruh di sisi meja, kemudian beranjak dari tempat duduknya. “Aku jadi penasaran kenapa kau tadi menghampiriku dan bersedia jadi tempat curhatku.”

Pernyataan Im Yoona membuat pikiran Sehun kembali melayang. Sebenarnya, ia tidak tahu kenapa ia menghampiri Im Yoona dan akhirnya menjadi tempat curhat gadis itu. Ia dijuluki ‘batu es berjalan’ bukan tanpa alasan. Sehun juga bukan tipe orang yang gampang penasaran, apalagi pada orang-orang macam Im Yoona. Kalaupun penasaran pun, ia tidak akan mendedikasikan dirinya untuk jadi tong sampah ocehan gadis itu.

“Lagi baik, sepertinya.” Akhirnya jawaban seadanya lah yang keluar dari bibir Sehun sembari mengangkat pantatnya dari bangkunya, kemudian meraih tasnya yang juga ia taruh di sisi meja. Pemuda itu melirik Im Yoona, yang menatapnya dengan pandangan bertanya. Sehun mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Tidak, tidak apa-apa. Kau sudah mau pulang?”

Sehun hampir memutar bola matanya mendengar pertanyaan Im Yoona. Ia sudah berdiri dari bangkunya dan menenteng tas di pundaknya. Memangnya ia mau kemana setelah ini? Kelas bersama Miss-Killer-Kim? Gadis di depannya ini benar-benar. “Tentu saja mau pulang. Kenapa? Mau pulang bareng?”

Sebenarnya Sehun hanya basa-basi, setengah menyindir. Tapi gadis itu langsung mengangguk, mengiyakan ajakannya, kemudian mulai kembali bicara mengenai Kim Jongin yang biasanya pulang bersamanya. Sehun menghela napas, curhatan maut gadis itu rupanya belum selesai.  Salahnya menawarkan ajakan pulang pada Im Yoona, sih.

Tidak apa, lah. Seperti katanya tadi pada gadis itu, ia sedang dalam mode baik. Sekali-kali pulang bersama orang lain boleh lah, walaupun ditemani ocehan panjang lebar dari Im Yoona yang berisik

Tamat

Akhirnya saya kembali setelah sekian lama XD

Ceritanya sih mau dibikin kumpulan one-shot. Masih abal-abal, jadi mohon kritik dan sarannya. Terima kasih ^^

btw gambarnya cuma asal ambil di Tumblr diotak-atik dikit -.-“

“Oh Sehun?”

“Hmm?”

“Kau ada acara besok sore?”

“Kenapa?”

“Tidak ada, ‘kan? Kau mau nonton denganku tidak?”

Oh Sehun berhenti melangkah, membuat Im Yoona yang ada di sebelahnya ikut menghentikan langkahnya. Sehun menatap Im Yoona dengan kening berkerut. “Apa ini? Kau mengajakku kencan?”

Im Yoona terlihat memutar bola matanya. “Aku sudah beli dua tiket. Tadinya sih, untuk Kim-Sialan-Jongin, tapi dia kan sedang sibuk. Daripada sia-sia, lebih baik kuberikan padamu saja. Bagaimana? Kau mau tidak? Lumayan, loh, tiket nonton film terbaru. Kau mendapatkannya secara gratis. Well, anggap saja juga sebagai ucapan terima kasih. Bagaimana?”

Sehun memiringkan kepalanya. Berpikir. “Boleh. Jam berapa?”

Advertisements

8 thoughts on “Fragment: Curhat [o.s.h]

  1. Wow, menarik. Aku suka ceritanya. Yoona lucu banget sih. Curhatnya gak akan habis2 kyaknya, dan yg dia curhatkn hanya Kim Jongin 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s