Today [Oneshot] KyuNa version

TODAY

by Akahaizu

“Hei, Im Yoon-A!” 

Yoon-A menghembuskan napas panjang mendengar namanya disebut, kemudian memaksa kepalanya yang berat untuk mendongak ke asal suara.

Di dekat pintu, ada Kim Hee-Chul, Park Jung-Soo, dan Kim Tae-Yeon yang tengah menatapnya. Yoon-A bergumam keras. Kelas hampir kosong sekarang dan Yoon-A yakin gumamannya akan sampai ke telinga mereka bertiga. “Kami akan makan siang di kafetaria. Kau pergi?”

Yoon-A kembali menghela napas. Memangnya mereka bertiga tidak bisa melihat dirinya yang letih lesu tanpa tenaga ini? “Kalian duluan saja. Aku mau tidur.”

Setelah mendengar kata ‘baiklah’ dari Kim Hee-Chul dan melihat mereka bertiga melewati pintu, Yoon-A kembali menaruh kepalanya di meja, dengan kedua tangan terulur memegang ujung meja. Siang ini ia benar-benar tidak bersemangat. Tidak, sejak pagi tadi ia memang tidak punya tenaga. Ia tidak keluar kelas dan sama sekali tidak memperhatikan pelajaran. Tenaga hasil pembakaran sarapannya tadi entah hilang kemana.

Lagipula, untuk apa ke kafetaria? Toh tidak ada apa-apa di sana.

Ah. Yoon-A mendesah pelan. Tidak ada apa-apa, tentu saja. Apa-apa yang Yoon-A maksud tentu saja bukan makanan atau teman-temannya. Jelas makanan masih banyak dan teman-temannya bergerombolan di sana. Pasti mereka merasa kafetaria adalah milik mereka saat ini. Terasa longgar dan luas, tidak perlu berdesakan, mudah mencari tempat, dan tidak perlu malu-malu seperti hari-hari biasanya terhadap kakak kelas.

Kakak kelas. Yoon-A merasa hidupnya sama sekali sengsara ketika mendengar kata itu hari ini. Angkatan senior hari ini mengadakan studi wisata ke Busan. Inisiatif sendiri, dan dengan sedikit usaha akhirnya didukung oleh pihak sekolah. Katanya untuk sedikit refreshing sebelum beberapa minggu lagi diadakan tes masuk universitas. Refreshing apanya? Yoon-A mendengus. Ini pasti akal-akalan ketua murid sialan itu saja agar bisa berdekatan dengan—

“Im Yoon-A!!”

Suara teriakan yang tiba-tiba memenuhi ruang kelas itu membuat Yoon-A tersentak dan segera menoleh ke asal suara. Kemudian ia memutar bola matanya ketika melihat seorang gadis berantakan yang sedang melongokkan kepala dari pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Yoon-A memutuskan untuk menyembunyikan kepalanya kembali ketika melihat Jung Eun-Ji yang berisik berjalan ke arahnya.

Dia lagi.

“Hei!” Yoon-A mendecakkan lidah dan merubah posisi kepalanya ke arah Jung Eun-Ji. Wajah Jung Eun-Ji terlihat merah dan sedikit lelah. “Aku menunggumu hampir limabelas menit di kafetaria dan kau tidak kunjung muncul. Kau benar-benar menyebalkan.”

Siapa yang menyebalkan? Yoon-A medengus dan menyembunyikan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya. “Pergilah, Jung Eun-Ji ssi, aku sedang tidak berminat berbicara banyak pada siapapun hari ini. Nikmati makan siangmu.”

“Kau benar-benar menyebalkan Im Yoon-A. Serius. Hanya gara-gara tidak kunjung mendapatkan makanan kesukaan Ch—“ Yoon-A cepat-cepat mengangkat kepala dan menatap Jung Eun-Ji dengan pandangan mematikannya. Gadis ini benar-benar menyebalkan. Seharusnya Yoon-A tidak bilang pada Jung Eun-Ji waktu itu. Jung Eun-Ji berdehem, melirik sekeliling dengan ekor matanya. “—bakal calon kekasihmu— dan kau seperti mayat hidup sekarang.”

Yoon-A, yang tadi hampir kehilangan nyawanya gara-gara Jung Eun-Ji, mengibaskan kedua tangannya ke arah Jung Eun-Ji. “Kau benar-benar sok tahu, Jung Eun-Ji! Lebih baik sekarang kau keluar dari kelasku dan makan makan siangmu. Kehadiranmu di kelasku benar-benar mengganggu!”

Jung Eun-Ji kelihatannya tidak menanggapi serius usiran Yoon-A —membuat Yoon-A makin jengkel— dan malah memasang wajah aku-sedang-berpikir-keras. “Jika kau tidak murung gara-gara makanan kesukaan bakal calon kekasihmu—“ dengan penuh penekanan Jung Eun-Ji mengatakan tiga kata terakhir. “—itu pasti karena kau belum bertemu bakal calon kekasihmu hari ini. Nah, itu dia! Kenapa kau tidak datang ke kafetaria sekarang? Bukankah biasanya bakal calon kekasihmu itu berada di sana di jam-jam segini?”

Aduh, seharusnya Yoon-A benar-benar tidak usah mempercayakan rahasia terbesarnya —baru-baru ini— pada orang semacam Jung Eun-Ji, benar-benar terancam. Dan gadis ini, sebagai seorang informan, benar-benar ketinggalan informasi. “Mana bisa? Memangnya kau tidak tahu kalau anak kelas senior sekarang berada di Busan? Informan macam apa kau ini?”

“Nah, aku macam informan yang selalu update!” Yoon-A mencibir pelan dan meletakkan kepalanya kembali di meja, dengan pandangan tetap ke arah Jung Eun-Ji. Apanya yang selalu update? “Kau pasti tidak tahu ‘kan?”

“Apa?”

“Kelas 12-1 tidak ikut ke Busan hari ini. Mereka masuk seperti biasa. Memangnya kau tidak dengar suara Lee Hyuk-Jae di radio sekolah tadi pagi?”

Yah, sepertinya Yoon-A harus minta maaf dan berterima kasih lebih banyak pada Jung Eun-Ji. Gadis itu memang macam informan yang selalu update rupanya. Bahkan Yoon-A tidak tahu kalau kelas 12-1 tidak ikut ke Busan dan baru tahu dari Jung Eun-Ji. Sepertinya ia terlalu tidak bersemangat tadi pagi hingga tidak mendengarkan suara cempreng Lee Hyuk-Jae di radio sekolah.

Begitu mendengar kabar bahwa ternyata kelas bakal calon kekasih-nya tidak ikut ke Busan, Yoon-A segera bangkit dari duduk lesunya dan menarik lengan Jung Eun-Ji menuju kafetaria, membuat gadis berantakan itu memekik. “Aduh! Tanganku hanya dua, tahu?!”

“Tadi kau bilang kau ingin mengajakku ke kafetaria. Sekarang sudah kuajak malah marah-marah.” Yoon-A membalas dengan tidak sabar sambil mempercepat langkahnya, membuat Jung Eun-Ji memekik lebih keras dan menarik perhatian orang-orang yang berada di koridor menuju kafetaria. “Kau bisa diam tidak sih?”

“Jika kau berhenti menarik tanganku sampai hampir putus —oh, sialan— seperti ini aku akan mengikutimu seperti boneka patuh.”

Tapi Im Yoon-A memutuskan untuk tidak melepaskan lengan Jung Eun-Ji sampai di dekat pintu keluar gedung menuju kafetaria —yang kebetulan memiliki gedung tersendiri— dan membuat gadis berantakan itu memekik sepanjang jalan. Biarkan saja gadis itu memekik sepanjang jalan dan menarik perhatian, daripada jika Yoon-A melepaskan tangannya —walaupun tahu Jung Eun-Ji tidak akan kabur atau semacamnya— Jung Eun-Ji akan mengeluh panjang lebar dan pasti membocorkan rahasia besarnya.

Teriak-teriak seperti itu juga tidak apa-apa.

Jung Eun-Ji langsung mengusap-usap tangannya dramatis ketika Yoon-A melepaskan genggaman —atau cengkraman—nya dari lengan Jung Eun-Ji. “Kau benar-benar mengerikan, Im Yoon-A. Walaupun banyak lelaki menyukaimu, kurasa kau bukanlah tipe wanita idaman dari lelaki macam Ch— aduh!”

Nah, belum apa-apa saja sudah begitu. Yoon-A memutar bola matanya malas dan pandangan kilatnya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti mengumpati Jung Eun-Ji dalam hati. Yoon-A cepat-cepat menarik lengan Jung Eun-Ji —yang mulutnya masih mengoceh panjang lebar tentang kaki kanannya— menyingkir dari dekat pintu keluar menuju sisi kosong koridor yang terutup diding batu. “Diam!”

“Apa? Apa? Ada apa?” Jung Eun-Ji berujar heboh, membuat Yoon-A dengan tidak sabar meletakkan tangannya untuk membekap mulut Jung Eun-Ji.

“Aduh, kau ini berisik sekal—” Yoon-A dengan cepat menghentikan ucapannya begitu melihat sekelompok pemuda keren —dengan dua orang gadis yang tidak terlalu tinggi di sela-sela mereka— berjalan memasuki gedung sekolah sambil mengobrol, membuat Yoon-A —dan nyaris seluruh gadis di koridor itu— praktis menahan napas. Astaga, itu dia!

Pemuda yang terlihat paling tinggi —tidak juga sih, tapi anggap saja begitu— di kelompok tersebut, yang berkulit paling pucat dan berjalan paling depan di sisi kanan seperti seorang dengan jabatan tinggi, adalah bakal calon kekasih Yoon-A. Dia, yang keren sekali itu, adalah Cho Kyu-Hyun. Tampan, tinggi, cerdas, berbakat, mempesona, cool, keren, walaupun tidak baik-baik amat, adalah sosok paling sempurna selain David Beckham yang pernah Yoon-A temui.

Lihat cara berjalannya! Benar-benar keren dan berwibawa. Tetap diam dan tenang sementara teman-temannya sibuk mengobrol. Walapun posisinya bukan sebagai pemimpin —kehormatan itu masih berada di tangan Lee Dong-Hae, yang walaupun tampan tapi lebih pendek dari Cho Kyu-Hyun— pemuda itu tetap terlihat sebagai yang paling keren dan yang paling menakjubkan di antara yang lain.

Yoon-A benar-benar menahan napasnya ketika orang-orang itu berjalan sambil mengobrol —selain Cho Kyu-Hyun, tentu saja, yang tetap mempesona walaupun berada di sisi yang berseberangan dengan Yoon-A. Pandangan mata Yoon-A tetap berada pada wajah Cho Kyu-Hyun yang mengarah ke arah koridor di depannya. Benar-benar pria tampan yang berpendirian teguh dan penuh konsentrasi.

Gadis itu menghembuskan napas lega ketika orang-orang itu sudah berada sepuluh meter jauhnya. Bahunya terasa lebih ringan dan rasa kesalnya menguap seketika ketika melihat wajah Cho Kyu-Hyun yang membuat damai hidupnya. Melihat Cho Kyu-Hyun membuatnya benar-benar lega. Cho Kyu-Hyun berada di sini, itu berarti Song Sialan Qian itu gagal menjalankan rencananya berdekatan dengan Cho Kyu-Hyun di Busan.

Separuh harinya akan berjalan dengan lancar.

“Aduh, senangnya—”

“Eun-Ji ya, kau mau makan apa? Aku traktir hari ini.”

END

EPILOG

Im Yoon-Jae sialan!

Kenapa kaki anak itu harus patah segala? Benar-benar menjengkelkan. Gara-gara anak itu sekarang Yoon-A harus berjalan keluar dari kamarnya yang nyaman menuju penjual topokki di ujung jalan.

Kadang Yoon-A merasa kalau jadi orang sakit sangat lebih menguntungkan daripada orang sehat. Lihat saja Im Yoon-Jae. Dia bahkan tidak sakit —dia hanya sakit secara fisik. Itu juga kakinya saja, paling satu dua bulan juga dia bisa main skateboard lagi. Jiwanya sama sekali sehat. Malah Yoon-A bisa melihat wajah jahil menjengkelkan anak itu sebelum Yoon-A menutup pintu depan rumahnya. Tapi ibunya tersayang jelas menganggap wajah jahil itu sebagai yang harus dikasihani dan dibantu.

Ha! Apanya yang dikasihani? Apalagi dibantu? Yoon-A yakin benar kalau Im Yoon-Jae tengah mengerjainya dengan menyuruhnya membeli topokki! Yoon-A tahu benar kalau adiknya —hah— yang satu ini tidak suka jajanan seperti itu. Anak sialan itu hanya makan daging dan Yoon-A yakin topokki itu pada akhirnya hanya akan berakhir di tempat sampah.

Lagipula, siapa yang suka makanan seperti itu? Tidak enak. Tidak sehat sama sekali. Hanya orang-orang bodoh, tidak berpendidikan, dan menyedihkan saja yang suka jajanan yang membuat malaikat maut satu kilometer lebih dek—

“Aduh!”

Yoon-A memekik ketika sebuah beban mendorongnya ke belakang dan membuat tubuhnya nyaris jatuh. Sialan. Yoon-A pikir, setelah kejadian menyenangkan dan melegakan di dekat kafetaria tadi siang, membuat sisa harinya menjadi baik-baik saja. Ternyata tidak sama sekali. Malah ia merasa begitu sial.

“Bisa jalan tidak, sih?!” Yoon-A mendengus jengkel sambil merapikan tatanan rambutnya yang rusak gara-gara makhluk menjengkelkan di depannya ini. Dan gadis itu benar-benar terkejut ketika mendapati sosok familier itu tengah berdiri di depannya dengan wajah datar sambil menenteng bungkus plastik —yang Yoon-A yakin di dalamnya berisi topokki— di tangannya.

“Kau baik-baik saja?”

KyuNa version ^^

Sori untuk typo, cerita aneh, dan kesalahan-kesalahan lainnya. Maklum, masih amatir.

Advertisements

18 thoughts on “Today [Oneshot] KyuNa version

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s