alternate universe, Korea

Fall [Oneshot]

Fall [Oneshot]

By Akahaizu

Lee Dong-Hae tidak terlalu suka musim gugur. Bukan. Ia tidak suka musim gugur.

Di awal musim gugur ia harus meninggalkan ranjangnya yang nyaman dan menyenangkan untuk kembali ke sekolah. Walaupun ia bisa bertemu dengan teman-temannya lagi, tetap saja—punggungnya harus menunggu sampai jam 8 malam untuk kembali menyentuh permukaan ranjangnya yang nyaman.

Makin ke depan makin menjengkelkan. Angin semakin kencang dan udara dua kali lipat lebih dingin. Ia harus mengenakan mantel tebal yang berat dan menjengkelkan serta masker pelindung untuk menghindari debu-debu yang terbawa angin. Parahnya lagi daun-daun kecokelatan yang telah gugur juga akan terbawa angin, berterbangan kesana kemari mengotori jalanan dan menabrak para pejalan kaki.

Satu-satunya hal yang baik dari musim gugur, selain teman-temannya, adalah Halloween, dan Halloween terjadi di akhir Bulan Oktober, yang artinya ia harus melewati dua bulan penuh dengan angin dan daun-daun terbang sebelum sampai pada saat Halloween. Penantian panjang penuh perjuangan.

Tapi ada suatu saat dimana Lee Dong-Hae harus merelakan pandangannya terhadap musim gugur menguap.

Saat itu adalah Rabu yang berangin —tentu saja— di pertengahan September. Sekolah dimulai 1 jam lagi dan Lee Dong-Hae, dengan seragam musim gugur yang terlapis sebuah mantel cokelat tebal panjang dan sepatu roda hitam favoritnya, sudah berada di jalan setapak lebar yang membelah taman kota besar di dekat kawasan perumahan tempatnya tinggal. SMA-nya sepuluh menit di depan.

Pemuda itu bersorak menang dalam hati ketika hanya melihat sedikit orang yang berada di taman itu pagi ini. Hanya sedikit orang di dunia yang mau jogging di taman pada pagi dingin di awal musim ini. Musim gugur memang tidak ada untungnya, jelas sekali. Angin-sialan itu mencegah orang-orang untuk menjadi lebih sehat. Satu lagi keburukannya.

Pemuda itu mempercepat laju sepatu rodanya. Yah, sekolah memang masih lama dimulai, tapi lebih cepat ia sampai di sekolahnya, lebih cepat pula ia sampai di kelasnya dan menempati tempat duduk yang paling dekat dengan pemanas ruangan. Lebih cepat ia sampai di sekolah, maka lebih cepat pula Lee Dong-Hae tidak merasakan lagi angin musim gugur yang menjengkelkan pagi ini.

Umpatan pelan meluncur dari bibirnya ketika beberapa helai daun yang terbawa angin hinggap di wajahnya. Angin yang berhembus berlawanan dengan arah sepatu rodanya meluncur membuat dedaunan hinggap dengan leluasa di wajah dan tubuhnya. Pemuda itu mengumpat lagi, kali ini lebih keras dan membuat dua orang yang tengah berlari beriringan dari arah seberang menatap jengkel ke arahnya. Namun rodanya terlalu cepat bergerak untuk ia bisa meminta maaf.

Well, biarkan saja. Lagipula ia juga tidak melihat—

Lee Dong-Hae berteriak saat sesuatu menutupi wajah dan pandangannya. Sesuatu yang berat dan mendorongnya ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, ia tidak bisa melihat apa-apa. Tangannya mencoba menyingkirkan benda itu dari wajahnya, tapi angin yang berhembus ke arahnya ditambah dengan sepatu rodanya yang melaju cukup kencang tanpa kendali melawan angin membuat benda —kain— itu makin menempel di wajahnya.

Pemuda itu menaruh tangannya di lutut dan mencoba menekannya untuk menghentikan laju sepatu roda. Sepatu rodanya terhenti secara tiba-tiba, membuatnya jauh dari keseimbangan dan nyaris terjatuh. Lee Dong-Hae menggeram pelan sebelum menyingkirkan kain menjengkelkan yang nyaris membuatnya terjatuh itu.

Sebuah syal. Lee Dong-Hae mengumpat. Syal sialan!

Pemuda itu berjalan dengan sepatu rodanya ke arah tepian jalan setapak sambil menggerutu. Mengabaikan tatapan bingung bapak-bapak bermantel hitam yang berjalan dari arah seberang tak lama kemudian. Beberapa meter dari tempatnya nyaris terjatuh tadi adalah sebuah persimpangan jalan taman yang berbentuk belokan melengkung. Lee Dong-Hae menghela napas lega. Setidaknya ia tidak perlu menabrak tiang lampu jalan dan penunjuk arah di sela-sela persimpangan itu.

Napasnya mulai teratur dan kini pandangannya beralih pada syal merah tua yang nyaris meregang nyawanya. Syal itu kini melilit bahunya. Pemuda itu mendengus jengkel. Syal merah sialan. Syal merah sialan yang terbawa angin sialan dan hampir memutus senar nyawa terakhirnya. Ternyata daun dan debu bukanlah sesuatu yang terburuk yang bisa dibawa oleh angin musim gugur sialan. Syal ini lebih buruk.

Lee Dong-Hae mengangkat tangannya untuk melepaskan syal merah tua itu dari bahunya. Tidak terlalu sulit. Syal merah itu terlepas dan kini berada di tangan Lee Dong-Hae. Syalnya cukup panjang, nyaris menyentuh tanah yang tertutup dedaunan di sampingnya. Syal ini juga cukup lembut, siapapun yang merajutnya pasti sangatlah ahli. Sesaat kemudian pemuda itu tertegun.

Mau diapakan syal ini?

Dibuang? Yang benar saja. Pasti ini syal mahal dan sedang dicari oleh pemiliknya saat ini. Walaupun ini syal nyaris membunuhnya tadi, tetap saja— Tapi ia juga tidak akan menyimpan syal ini. Syal ini pasti sedang dicari oleh pemiliknya. Juga, ini adalah benda yang tadi hampir membuatnya terbunuh. Benda ini tidak boleh dekat-dekat dengannya. Benda in—

“Permisi!”

Lee Dong-Hae menoleh ketika mendengar sebuah suara ringan, mirip lonceng, dari arah persimpangan. Seorang gadis berambut cokelat panjang sedang berdiri di tengah persimpangan tersebut. Lee Dong-Hae mengerutkan kening. Gadis berambut cokelat panjang itu tidak menggunakan mantel dan hanya memakai seragam sekolah. Seragam sekolahnya.

Gadis itu segera berlari menghampiri Lee Dong-Hae. Rambut cokelatnya yang panjang berterbangan tertiup angin ketika berlari. Tangan-tangan gadis mencoba menyingkirkan helai-helai rambut yang jatuh menutupi pandangannya.

“Permisi!”

Gadis itu berujar lagi sambil terengah setelah berada di depan Lee Dong-Hae. Salah satu tangan berada di lutut sementara tangan yang lain masih menyingkirkan helai-helai rambut di wajahnya. Kemudian gadis itu mendongak, dan membuat Lee Dong-Hae tertegun.

Manis.

Helai-helai rambut masih berada sedikit di wajahnya, tapi itu tidak membuat wajah gadis itu tersembunyi. Bibir merah mudanya yang tipis dan sedikit terbuka, hidung mancungnya, pipinya yang tidak tirus, dan mata cokelat madu besar dan berbinar yang saat ini sedang menatap Lee Dong-Hae. Cantik.

“Permisi!”

Lee Dong-Hae tersentak dari lamunannya, berdehem pelan. Pemuda itu membuka mulutnya, hendak mengatakan kalau gadis ini pasti pemilik syal merah di tangannya ini. Namun tidak ada yang keluar dari bibir Lee Dong-Hae. Pemuda itu tidak bisa mengeluarkan suaranya.

“Maaf,” gadis itu tersenyum kecil, membuat Lee Dong-Hae nyaris tenggelam pada lamunannya lagi. “Syal merah di tangan Anda itu milik saya. Tadi tanpa sengaja terbang terbawa angin. Mohon maaf atas ketidaknyamananya dan terima kasih.”

Lee Dong-Hae kembali berdehem, kali ini mengalihkan pandangan pada syal yang nyaris membunuhnya itu. Untungnya ia tidak berpikiran untuk membunuh pemilik syal ini tadi. Untungnya begitu. Pandangannya kembali beralih pada gadis berambut cokelat panjang yang tengah tersenyum di depannya. “Ah, ini milikmu rupanya.”

Tidak. Ia tidak akan mengatakan pada gadis cantik di depannya ini kalau syal merah tua milik gadis cantik inilah yang membuat Lee Dong-Hae nyaris bertemu malaikat maut. Alih-alih bertemu malaikat maut, ia malah bertemu malaikat cantik rupawan ini.

Gadis itu mengangguk. “Ini milik saya. Terima kasih sudah menangkapnya. Syal ini agak—eh, liar. Boleh saya ambil kembali?”

Lee Dong-Hae menganggukkan kepalanya dan mengulurkan syal merah itu pada gadis ini dengan cepat. Pemuda itu lagi-lagi berdehem ketika gadis itu melilitkan syal pembawa si—keberuntungan itu di lehernya. Sekarang ia tidak akan menganggap kejadian tadi sebagai kesialan. Itu keberuntungan. “Lain kali jangan sampai terbang lagi, ya?”

Gadis itu tersenyum lebih lebar. Matanya menyipit. “Baiklah. Sekali lagi terima kasih. Saya permisi dulu, Pak!”

Lee Dong-Hae terlalu sibuk memandangi punggung gadis yang kini tengah berlari menuju tempatnya semula berasal hingga terlambat menyadari bahwa gadis itu memanggilnya dengan panggilan yang salah. Pemuda itu mengerjap. Apa tadi katanya? Pak? Apa wajahnya setua itu? Lagipula memangnya ada bapak-bapak mau pergi-pergi pakai sepatu roda?

Gadis cantik yang manis dan menawan itu memanggilnya ‘Pak’. Lee Dong-Hae menghembuskan napas panjang dan tersenyum. Terserah. Ia sudah benar-benar merasa beruntung bertemu malaikat cantik menawan macam gadis itu pagi ini.

Di Rabu pagi di pertengahan September, saat angin musim gugur yang tidak ia sukai menerbangkan sebuah syal yang nyaris merenggut nyawanya, dan akhirnya membawa seorang malaikat cantik menawan di hadapannya. Senyumya semakin lebar dan pemuda itu kembali menggerakkan sepatu rodanya. Angin musim gugur tidak buruk juga.

Lee Dong-Hae mempercepat laju sepatu rodanya. Ia harus cepat-cepat sampai ke sekolah. Di samping tempat menggoda di dekat pemanas ruangan kelasnya, sepertinya gadis cantik berambut cokelat panjang tadi juga berada di sana. Gadis itu memakai seragam sekolahnya bukan?

Apa ini? XD

Liat Mekakucity Actors sama Naruto The Last. Nemuin syal merah keren di pajangan toko baju deket rumah. Jadilah ini fanfiksi. Maaf atas ke-absurd-annya dan tokoh yang OOC banget. Sori buat typos dan penggunaan bahasa yang aneh.

Advertisements

8 thoughts on “Fall [Oneshot]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s