The Instructor [Oneshot]

The Instructor [One-shot]

By Aka Midori

Im Yoon-A – Cho Kyu-Hyun | AU – School-life | G

Im Yoon-A yang tidak pedulian dituntut sukses untuk Ujian Akhir Semester ini oleh guru dan orang-orang di sekitarnya. Dan Guru Jung memutuskan untuk mencarikannya seorang tutor! Bagaimana kisah Yoon-A dan tutornya?

Pertemuan pertama

Nope. Pertemuan kedua.

Benar-benar menyebalkan.

Gadis itu mendengus pelan, melirik arloji biru muda yang meliliti pergelangan tangan kirinya. Empat lebih empatbelas menit. Pandangannya beralih ke arah pintu masuk kelas. Tidak ada perubahan dan pergerakan apa-apa, dan itu membuat gadis itu kembali mendengus. Keren benar si Cho Kyu-Hyun itu. Mematahkan rekor menunggunya; lima menit adalah batas maksimum Yoon-A untuk menunggu, dan bocah itu membuatnya mencetak rekor baru.

Yoon-A bersumpah kalau dalam waktu satu menit bocah Cho itu tidak datang, ia akan meninggalkan kelas mereka lagi.

Tapi sepertinya Tuan Nasib sedang menginginkannya untuk berada lebih lama lagi di kelas. Bocah Cho Kyu-Hyun, sosok yang baru kemarin ia putuskan untuk dijadikan musuh abadi baginya, berjalan masuk dengan santainya bersama kaleng soda yang masih utuh di salah satu tangannya—bocah malah terlihat terkejut dengan keberadaannya. Pandangannya makin tajam ke arah bocah Cho dengan tampang sok tidak bersalah itu, tidak suka.

Bocah Cho itu sudah terlihat tidak terkejut lagi, tapi masih menatapnya dengan pandangan aneh. Yoon-A mendengus. Bahkan tidak ada sorot menyesal sama sekali dalam pandangan itu.

“Apa kau lihat-lihat?” Yoon-A berujar galak. Tapi bocah Cho itu malah menarik kursi di depan Yoon-A, tidak peduli dengan gertakan Yoon-A. “Lima belas menit itu lama, tahu?”

Bocah Cho itu terlihat mengerutkan alis, membuat Yoon-A semakin jengkel. Dan kata-kata yang keluar dari bibir bocah Cho itu setelahnya membuat Yoon-A yakin menjadikan Cho Kyu-Hyun sebagai musuh abadi itu bukanlah sesuatu yang salah. “Aku menunggumu setengah jam kemarin. Dua kali lipat!”

Oh ya, benar. Kakak laki-laki Yoon-A juga memarahinya selama setengah jam penuh kemarin!

Dan itu gara-gara mulut embermu! Yoon-A mendengus.

Bocah Cho sialan ini melaporkan ketidakhadirannya kepada Guru Jung, yang langsung menghubungi ayahnya. Dan walaupun ayahnya tidak kembali ke rumah mereka lagi kemarin, tapi ayahnya yang baik hati dan pengertian memutuskan untuk menyalurkan sikap baik hati dan pengertiannya kepada kakak laki-laki Yoon-A. Membuat, Yoon-A yakin, pemuda sok tua itu senang bukan kepalang karena punya alasan untuk memarahi Yoon-A. Bocah Cho sialan ini rupanya suka mencari muka di depan guru-guru.

Dan sejak saat itu bocah Cho ini mendapat gelar musuh dari Yoon-A.

“Ya itu masalahmu!” Yoon-A berujar blak-blakkan. “Kau kan yang membutuhkanku, jadi seharusnya selama apapun itu kau harus tetap menungguku! Tidak usah pakai acara adu mengadu pada Guru Jung!”

Yoon-A benar, ‘kan? Setelah tahu bocah Cho ini adalah orang yang suka cari muka di depan guru, Yoon-A yakin benar kalau alasan bocah Cho ini mau mengajarinya adalah agar imejnya jadi baik di depan guru—dan mendapatkan tambahan angka sialan itu sebagai hadiahnya.

Bocah Cho itu terlihat mengernyitkan dahi, bingung. Sok bingung, Yoon-A meralat. “Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu. Kau kan yang membutuhanku, jadi seharusnya selama apapun itu kau harus tetap menungguku.”

Cih, Yoon-A membutuhkan Cho Kyu-Hyun? Untuk apa? Menambah angka sialan untuk buku laporan hasil belajar? Yang benar saja. Bahkan kalau bukan karena ancaman kakak laki-lakinya kemarin malam, yang parahnya mengikutsertakan kunci kamar dan uang jajan, Yoon-A juga tidak akan berada di tempat ini sekarang. Buang-buang waktu.

Hah, benar, ia tidak boleh membuang-buang waktu lebih banyak lagi. “Sudahlah. Cepat kerjakan tugasmu dan cepat-cepat keluar dari tempat ini.”

Bocah Cho itu terlihat mendengus, mulai membuka bukunya. Dan gadis itu juga ikut mendengus, seharusnya orang seperti Cho Kyu-Hyun ini—yang gila nilai dan suka cari-cari perhatian guru— tidak perlu ada di dunia.

Pertemuan ketiga

Kalau Yoon-A datang di pertemuan pertama mereka, maksudnya saat sesi tambahan pertama mereka, Yoon-A yakin kalau ia tidak perlu berada di ruangan yang sama dengan Cho Kyu-Hyun selama dua jam penuh hanya berdua. Ia pasti bisa bertemu Jung Eun-Ji dan Shin Dong-Hee yang juga mengikuti kelas tambahan. Kalau ia datang di sesi tambahan pertama, jadwalnya tidak akan diundur satu hari seperti saat ini.

Berada satu ruangan dengan Cho Kyu-Hyun, hanya berdua, itu neraka. Bocah Cho itu begitu perfeksionis, dan itu sama sekali bukan Yoon-A. Pemuda itu juga tipikal orang yang gila nilai. Selalu mengikutksertakan kata nilai tinggi dan peringkat setiap selesai mengajari Yoon-A materi. Yoon-A mendecih, kalau Cho Kyu-Hyun tahu isi pikirannya, pemuda itu bakal berpikir ulang untuk menjadikan nilai tinggi sebagai salah satu hal yang para pelajar wajib dapatkan.

“Persamaan trigono ini sebenarnya mudah. Seperti persamaan fungsi saat SMP atau persamaan logaritma. Lebih mudah malah dari keduanya. Kalau kau mengerti konsepnya, kau akan mudah mengerjakannya, dan nilaimu akan berubah tinggi saat ulangan. Peringkatmu juga akan naik, jadi kau tidak perlu berada melembur seperti ini lagi besok-besok.”

Sok peduli. Dan apa tadi katanya? Nilai tinggi? Konsep? Peringkat? Satu-satunya hal paling konkrit yang ada dalam kalimat Cho Kyu-Hyun barusan hanyalah kalimat terakhir.

“Sama saja.” Yoon-A membalas singkat, mulai mengerjakan soal pertama yang Cho Kyu-Hyun berikan kepadanya. “Nilai itu tidak penting.”

Tapi kalau nilai bisa membuat seseorang harus terjebak bersama orang aneh dan menjengkelkan selama dua jam penuh sepulang sekolah, maka nilai adalah sangat amat penting.

Pertemuan kesembilan

“Sialan kau, brengsek!”

“Sepertinya ruang kelas memang sedang tidak bisa dipakai.”

Yoon-A menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan Cho Kyu-Hyun.

Cho Kyu-Hyun berkata ia punya urusan di perpustakaan sehingga pertemuan mereka harus ditunda setengah jam. Yoon-A tidak keberatan, gadis itu tidak memakan makan siangnya tadi. Tapi saat Yoon-A kembali dari makan siangnya, gadis itu mendapati Cho Kyu-Hyun sedang berdiri di depan jendela kelas, menatap apa yang ada di balik jendela dengan seksama. Yoon-A awalnya tidak peduli, orang aneh memang seperti itu. Tapi suara gedebum keras yang terdengar di sepanjang koridor itu membuat Yoon-A mempercepat langkahnya ke depan ruang kelasnya.

Choi Siwon dan Kang Youngsil sedang memainkan drama keren di dalam ruang kelas. Terlalu sibuk menghajar satu sama lain untuk menyadari dua orang siswa tengah memperhatikan mereka.

“Ditunda besok saja bagaimana?” Yoon-A mengusulkan.

Tapi Cho Kyu-Hyun menggelengkan kepalanya, malah berjalan menjauhi ruang kelas berjalan mengikuti koridor. “Tidak bisa. Aku sudah capek-capek kemari dan kau dengan enaknya meminta pertemuannya ditunda.”

Kelas-kelas sebelah masih dipakai beberapa murid dan Yoon-A yakin Cho Kyu-Hyun juga tidak berminat untuk merangsak memasuki ruang kelas lain untuk sesi tambahan mereka kali ini. Yoon-A mengernyit heran, sepertinya orang-orang di ruang kelas lain tidak terlalu peduli dengan suara keras Choi Siwon dan Kang Youngsil. Tapi sudahlah, memang seharusnya seperti itu, tidak usah peduli.

“Apa kita perlu lapor guru?”

“Hmm…”

“Siwon dan Kang Youngsil. Bukannya seharusnya kita memberi tahu guru?”

“Kayaknya kau kelewat peduli dengan orang lain deh, makanya fokusmu untuk nilai berkurang.”

“Hah, sudahlah, tidak usah dibahas..”

“Hmm…”

Cho Kyu-Hyun terlihat berhenti di tengah saat mereka menuruni tangga, kemudian menoleh ke arah Yoon-A. Bocah Cho itu tersenyum kecil. “Bagaimana kalau di sini saja?”

Pertemuan ke-duabelas

“Kau terlalu banyak melamun.”

Yoon-A mengerutkan kening. Banyak melamun bagaimana? “Ya?”

Cho Kyu-Hyun terlihat menghela napas panjang. “Kau terlalu banyak melamun. Itu tidak baik.”

“Melamun?” Yoon-A merasa tidak pernah melamun. Ia tidak pernah melamun. Hanya pikirannya saja yang sering kemana-mana, tapi itu juga tidak bisa dibilang melamun kan? “Aku tidak pernah.”

Cho Kyu-Hyun terlihat sangsi. “Kau baru selesai melamun sambil menatap badanku. Apa yang sedang kaupikirkan, huh?”

Badan? Wajah Yoon-A mulai memerah. Memikirkan badan Cho Kyu-Hyun? Yang benar saja. Ia hanya memperhatikan dasi Cho Kyu-Hyun yang beratakan dan tidak sesuai. Dasi berantakan itu mengingatkan Yoon-A pada anime yang ditontonnya semalam, tentang berandal sekolah yang jatuh cinta pada gadis baik-baik dan pendiam dari sekolah putri di belakang sekolahnya. Ceritanya benar-benar romantis. Dan si Berandal itu terlihat benar-benar tampan. Kapan—

“Kau melakukannya lagi.” Yoon-A tersentak dan mendongak. Cho Kyu-Hyun meletakkan pulpennya. “Kau melamun tentang badanku kan? Kenapa? Kau ingin melepas kancing bajuku? Membukanya? Melakukan hal-hal lain yang lebih lanjut?”

Yoon-A mendengus kesal. “Sialan kau. Mana ada orang yang mau melihat badanmu. Sudah perutmu besar, tangan kaki kurus kering seperti itu pula. Mana ada yang mau.”

“Yah, siapa tahu.” Cho Kyu-Hyun mengangkat bahu. “Omong-omong Senin depan sudah ujian akhir semester, ‘kan?”

“Hmmm…”

“Berarti ini pertemuan terakhir kita.”

“Hmmm…”

“Kau harus mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Aku sudah bekerja keras mengajarimu.”

“Kau habis terbentur sesuatu atau bagaimana? Jadi mirip bapak-bapak.”

“Bapak-bapak apanya? Omong-omong, aku tidak ada acara nanti sore.”

“Kenapa? Kaupikir aku akan mengajakmu kencan? Tidak, terima kasih.”

“Bukan kencan. Hanya makan-makan biasa. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihmu kepadaku atas kerja keras yang kulakukan. Juga untuk ucapan perpisahan karena, yah, mungkin kita tidak akan seperti ini lagi sepulang sekolah di semester depan.”

“Jadi kau ingin aku mentraktirmu?”

“Yah, begitulah.”

“Enak saja. Kau juga merasa terbantu kan? Pujian dari Guru Jung mengalir terus kepadamu.”

“Tapi kau juga harus membayarnya, ‘kan?” Cho Kyu-Hyun memiringkan kepalanya. “Kalau kau mentraktirku kali ini, dan kalau hasil ujianmu besok bagus, peringkatmu juga naik, aku juga akan mentraktirmu setelah ujian akhir semester, sepanjang musim panas penuh—kalau kau tidak liburan, sih. Restoran baru di depan 7 Eleven dekat pesimpangan sana, mereka bilang enak. Bagaimana?”

Apa ini -_-

Harusnya bukan begini jadinya -.-“ tapi malah begini hasilnya.

Lebih absurd daripada yang kemaren. Aneh banget. Udah dicoba permak berulang-kali hasilnya tetep begini. Maaf kalau tidak sesuai keinginan -.-“ malah kayak jurnal atau apalah itu. Soalnya idenya udah kegeser sama yang satu lagi. Maaf untuk typo dan grammatical error, bahasa saya aneh. Alurnya juga, kalau tidak sesuai harapan, maaf banget.

*edited wkkkk 😁

“Boleh, aku tidak pergi kemana-mana kok. Janji ya?”

Advertisements

16 thoughts on “The Instructor [Oneshot]

  1. waaah, snengnya dapet nemuin ff kyuna lagi yang masih aktif… yeeeeee… slam kenal eonni yg cantik… hehe,,, lebih byk bkin ff kyuannya lagi yah… SEMANGAT…….. ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s