alternate universe, Anime, school life

TODAY [Oneshot]

by Akahaizu

AU – OOC – General – Romance (?) – Friendship – SakuraxSasuke

Walaupun agak gak jelas tapi, happy reading!

“Hei, Sakura Haruno!” Sakura menghembuskan napas panjang mendengar namanya disebut, kemudian memaksa kepalanya yang berat untuk mendongak ke asal suara. Di dekat pintu, ada Shino Aburame, Kiba Inuzuka, dan Tenten yang tengah menatapnya. Sakura bergumam keras. Kelas hampir kosong sekarang dan Sakura yakin gumamannya akan sampai ke telinga mereka bertiga. “Kami akan makan siang di kafetaria. Kau pergi?”

Sakura kembali menghela napas. Memangnya mereka bertiga tidak bisa melihat dirinya yang letih lesu tanpa tenaga ini? “Kalian duluan saja. Aku mau tidur.”

Setelah mendengar kata ‘baiklah’ dari Kiba dan melihat mereka bertiga melewati pintu, Sakura kembali menaruh kepalanya di meja, dengan kedua tangan terulur memegang ujung meja. Siang ini ia benar-benar tidak bersemangat. Tidak, sejak pagi tadi ia memang tidak punya tenaga. Ia tidak keluar kelas dan sama sekali tidak memperhatikan pelajaran. Tenaga hasil pembakaran sarapannya tadi entah hilang kemana.

Lagipula, untuk apa ke kafetaria? Toh tidak ada apa-apa di sana.

Ah. Sakura mendesah pelan. Tidak ada apa-apa, tentu saja. Apa-apa yang Sakura maksud tentu saja bukan makanan atau teman-temannya. Jelas makanan masih banyak dan teman-temannya bergerombolan di sana. Pasti mereka merasa kafetaria adalah milik mereka saat ini. Terasa longgar dan luas, tidak perlu berdesakan, mudah mencari tempat, dan tidak perlu malu-malu seperti hari-hari biasanya terhadap kakak kelas.

Kakak kelas. Sakura merasa hidupnya sama sekali sengsara ketika mendengar kata itu hari ini. Angkatan senior hari ini mengadakan studi wisata ke Kyoto. Inisiatif sendiri, dan dengan sedikit usaha akhirnya didukung oleh pihak sekolah. Katanya untuk sedikit refreshing sebelum beberapa minggu lagi diadakan tes masuk universitas. Refreshing apanya? Sakura mendengus. Ini pasti akal-akalan ketua murid sialan itu saja agar bisa berdekatan dengan—

“Sakura Haruno!”

Suara teriakan yang tiba-tiba memenuhi ruang kelas itu membuat Sakura tersentak dan segera menoleh ke asal suara. Kemudian ia memutar bola matanya ketika melihat seorang gadis berantakan yang sedang melongokkan kepala dari pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Sakura memutuskan untuk menyembunyikan kepalanya kembali ketika melihat Ino Yamanaka yang berisik berjalan ke arahnya.

Dia lagi.

“Hei!” Sakura mendecakkan lidah dan merubah posisi kepalanya ke arah Ino Yamanaka. Wajah Ino Yamanaka terlihat merah dan sedikit lelah. “Aku menunggumu hampir limabelas menit di kafetaria dan kau tidak kunjung muncul. Kau benar-benar menyebalkan.”

Siapa yang menyebalkan? Sakura medengus dan menyembunyikan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya. “Pergilah, Ino Yamanaka, aku sedang tidak berminat berbicara banyak pada siapapun hari ini. Nikmati makan siangmu.”

“Kau benar-benar menyebalkan Sakura Haruno. Serius. Hanya gara-gara tidak kunjung mendapatkan makanan kesukaan Sa—“ Sakura cepat-cepat mengangkat kepala dan menatap Ino Yamanaka dengan pandangan mematikannya. Gadis ini benar-benar menyebalkan. Seharusnya Sakura tidak bilang pada Ino Yamanaka waktu itu. Ino Yamanaka berdehem, melirik sekeliling dengan ekor matanya. “—bakal calon kekasihmu— dan kau seperti mayat hidup sekarang.”

Sakura, yang tadi hampir kehilangan nyawanya gara-gara Ino Yamanaka, mengibaskan kedua tangannya ke arah Ino Yamanaka. “Kau benar-benar sok tahu, Ino! Lebih baik sekarang kau keluar dari kelasku dan makan makan siangmu. Kehadiranmu di kelasku benar-benar mengganggu!”

Ino Yamanaka kelihatannya tidak menanggapi serius usiran Sakura —membuat Sakura makin jengkel— dan malah memasang wajah aku-sedang-berpikir-keras. “Jika kau tidak murung gara-gara makanan kesukaan bakal calon kekasihmu—“ dengan penuh penekanan Ino Yamanaka mengatakan tiga kata terakhir. “—itu pasti karena kau belum bertemu bakal calon kekasihmu hari ini. Nah, itu dia! Kenapa kau tidak datang ke kafetaria sekarang? Bukankah biasanya bakal calon kekasihmu itu berada di sana di jam-jam segini?”

Aduh, seharusnya Sakura benar-benar tidak usah mempercayakan rahasia terbesarnya —baru-baru ini— pada orang semacam Ino Yamanaka, benar-benar terancam. Dan gadis ini, sebagai seorang informan, benar-benar ketinggalan informasi. “Mana bisa? Memangnya kau tidak tahu kalau anak kelas senior sekarang berada di Kyoto? Informan macam apa kau ini?”

“Nah, aku macam informan yang selalu update!” Sakura mencibir pelan dan meletakkan kepalanya kembali di meja, dengan pandangan tetap ke arah Ino Yamanaka. Apanya yang selalu update? “Kau pasti tidak tahu ‘kan?”

“Apa?”

“Kelas 12-1 tidak ikut ke Kyoto hari ini. Mereka masuk seperti biasa. Memangnya kau tidak dengar suara Choji Akimichi di radio sekolah tadi pagi?”

 –

Yah, sepertinya Sakura harus minta maaf dan berterima kasih lebih banyak pada Ino Yamanaka. Gadis itu memang macam informan yang selalu update rupanya. Bahkan Sakura tidak tahu kalau kelas 12-1 tidak ikut ke Kyoto dan baru tahu dari Ino Yamanaka. Sepertinya ia terlalu tidak bersemangat tadi pagi hingga tidak mendengarkan suara khas milik Choji Akimichi di radio sekolah.

Begitu mendengar kabar bahwa ternyata kelas bakal calon kekasih-nya tidak ikut ke Kyoto, Sakura segera bangkit dari duduk lesunya dan menarik lengan Ino Yamanaka menuju kafetaria, membuat gadis berantakan itu memekik. “Aduh! Tanganku hanya dua, tahu?!”

“Tadi kau bilang kau ingin mengajakku ke kafetaria. Sekarang sudah kuajak malah marah-marah.” Sakura membalas dengan tidak sabar sambil mempercepat langkahnya, membuat Ino Yamanaka memekik lebih keras dan menarik perhatian orang-orang yang berada di koridor menuju kafetaria. “Kau bisa diam tidak sih?”

“Jika kau berhenti menarik tanganku sampai hampir putus —oh, sialan— seperti ini aku akan mengikutimu seperti boneka patuh.”

Tapi Sakura Haruno memutuskan untuk tidak melepaskan lengan Ino Yamanaka sampai di dekat pintu keluar gedung menuju kafetaria —yang kebetulan memiliki gedung tersendiri— dan membuat gadis berantakan itu memekik sepanjang jalan. Biarkan saja gadis itu memekik sepanjang jalan dan menarik perhatian, daripada jika Sakura melepaskan tangannya —walaupun tahu Ino Yamanaka tidak akan kabur atau semacamnya— Ino Yamanaka akan mengeluh panjang lebar dan pasti membocorkan rahasia besarnya.

Teriak-teriak seperti itu juga tidak apa-apa.

Ino Yamanaka langsung mengusap-usap tangannya dramatis ketika Sakura melepaskan genggaman —atau cengkraman—nya dari lengan Ino Yamanaka. “Kau benar-benar mengerikan, Sakura Haruno. Walaupun banyak lelaki menyukaimu, kurasa kau bukanlah tipe wanita idaman dari lelaki macam Sa— aduh!”

Nah, belum apa-apa saja sudah begitu. Sakura memutar bola matanya malas dan pandangan kilatnya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti mengumpati Ino Yamanaka dalam hati. Sakura cepat-cepat menarik lengan Ino Yamanaka —yang mulutnya masih mengoceh panjang lebar tentang kaki kanannya— menyingkir dari dekat pintu keluar menuju sisi kosong koridor yang terutup diding batu. “Diam!”

“Apa? Apa? Ada apa?” Ino Yamanaka berujar heboh, membuat Sakura dengan tidak sabar meletakkan tangannya untuk membekap mulut Ino Yamanaka.

“Aduh, kau ini berisik sekal—” Sakura dengan cepat menghentikan ucapannya begitu melihat sekelompok pemuda keren —dengan dua orang gadis yang tidak terlalu tinggi di sela-sela mereka— berjalan memasuki gedung sekolah sambil mengobrol, membuat Sakura —dan nyaris seluruh gadis di koridor itu— praktis menahan napas. Astaga, itu dia!

Pemuda yang terlihat paling tinggi —tidak juga sih, tapi anggap saja begitu— di kelompok tersebut, yang berkulit paling pucat dan berjalan paling depan di sisi kanan seperti seorang dengan jabatan tinggi, adalah bakal calon kekasih Sakura. Dia, yang keren sekali itu, adalah Sasuke Uchiha. Tampan, tinggi, cerdas, berbakat, mempesona, cool, keren, walaupun tidak baik-baik amat, adalah sosok paling sempurna selain Kakashi Hatake yang pernah Sakura temui.

Lihat cara berjalannya! Benar-benar keren dan berwibawa. Tetap diam dan tenang sementara teman-temannya sibuk mengobrol. Walapun posisinya bukan sebagai pemimpin —kehormatan itu masih berada di tangan Shikamaru Nara— pemuda itu tetap terlihat sebagai yang paling keren dan yang paling menakjubkan di antara yang lain.

Sakura benar-benar menahan napasnya ketika orang-orang itu berjalan sambil mengobrol —selain Sasuke Uchiha, tentu saja, yang tetap mempesona walaupun berada di sisi yang berseberangan dengan Sakura. Pandangan mata Sakura tetap berada pada wajah Sasuke Uchiha yang mengarah ke arah koridor di depannya. Benar-benar pria tampan yang berpendirian teguh dan penuh konsentrasi.

Gadis itu menghembuskan napas lega ketika orang-orang itu sudah berada sepuluh meter jauhnya. Bahunya terasa lebih ringan dan rasa kesalnya menguap seketika ketika melihat wajah

Sasuke Uchiha yang membuat damai hidupnya. Melihat Sasuke Uchiha membuatnya benar-benar lega. Sasuke Uchiha berada di sini, itu berarti Karin Sialan itu gagal menjalankan rencananya berdekatan dengan Sasuke Uchiha di Kyoto.

Separuh harinya akan berjalan dengan lancar.

“Aduh, senangnya—”

“Inochan, kau mau makan apa? Aku traktir hari ini.”

END

EPILOG

Ryuu Haruno sialan!

Kenapa kaki anak itu harus patah segala? Benar-benar menjengkelkan. Gara-gara anak itu sekarang Sakura harus berjalan keluar dari kamarnya yang nyaman menuju restoran ramen di ujung jalan.

Kadang Sakura merasa kalau jadi orang sakit sangat lebih menguntungkan daripada orang sehat. Lihat saja Ryuu Haruno. Dia bahkan tidak sakit —dia hanya sakit secara fisik. Itu juga kakinya saja, paling satu dua bulan juga dia bisa main skateboard lagi. Jiwanya sama sekali sehat. Malah Sakura bisa melihat wajah jahil menjengkelkan anak itu sebelum Sakura menutup pintu depan rumahnya. Tapi ibunya tersayang jelas menganggap wajah jahil itu sebagai yang harus dikasihani dan dibantu.

Ha! Apanya yang dikasihani? Apalagi dibantu? Sakura yakin benar kalau Ryuu Haruno tengah mengerjainya dengan menyuruhnya membeli ramen! Ada banyak sekali ramen instan di rumah dan anak itu berkata hanya ingin makan ramen dari toko seberang? Yang benar saja. Lebih enak juga ramen di dekat sekolah— “Aduh!”

Sakura memekik ketika sebuah beban mendorongnya ke belakang dan membuat tubuhnya nyaris jatuh. Sialan. Sakura pikir, setelah kejadian menyenangkan dan melegakan di dekat kafetaria tadi siang, membuat sisa harinya menjadi baik-baik saja. Ternyata tidak sama sekali. Malah ia merasa begitu sial.

“Bisa jalan tidak, sih?!” Sakura mendengus jengkel sambil merapikan tatanan rambutnya yang rusak gara-gara makhluk menjengkelkan di depannya ini. Dan gadis itu benar-benar terkejut ketika mendapati sosok familier itu tengah berdiri di depannya dengan wajah datar sambil menenteng bungkus plastik —yang Sakura yakin di dalamnya berisi ramen— di tangannya.

“Kau baik-baik saja?”

ini fanfiksi Naruto pertama saya -.-” belum pernah buat dan gak tau mau buatnya ‘kayak gimana’. Dan akhirnya jadilah seperti ini. AU, OOC, absurd pula -.-“

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s